Jumat, 02 Januari 2009

Puisi Indonesia


KILAS BALIK

I
Di semenanjung waktu
Berlewatan kapal usia
Menuju kubur yang mendermaga

Angin adalah peristiwa
Yang menghembus ke saban masa
Dimana layar mengembangkan ragam cerita
Tanpa nahkoda

Dan pastinya, aku
hanya buih ombak
Di lautan penuh gejolak
Terus bergerak dan bergerak
Menyisir hari di tepi pantai kehidupan




II
Kembali ke depan cermin
Hati ini betapa dingin

Aku pandang garis-garis di wajahku
Seperti parit yang mengering
Telingaku masih merekam
Kata-kata dan semua pernyataanya
Dari bibirku, lidahku
Menyimpan warna aneka rasa
Dan hidungku, ya, hidungku
Masih mencium beragam bau
Bahkan aroma dari tubuhmu
Yang selalu mengumbar nafsu

Di depan cermin, kini aku
Dan bayanganku saling memandang
Pada dua bola matanya
Jutaan kenang berlesatan
Gambarnya silih berganti, dan
Memutar balik ingatan
Ke arah sunyi yang abadi

2008-2009


GOLDEN BLUE
Puisi Akhir Tahun)

I
Malam, hujan, aku lenyap
Dari ketiadaan senyap
Di paruh waktu
Mimpi menjelma raksasa rindu

II
Kepergianku kali ini
Adalah sajak akhir tahun
Yang merangkak ke pusat malam ibukota
Lalu rontok bersama derap impian lama
Tapi di Jakarta, aku tak sempat menyapamu
Walau hanya basa-basi sederhana

Musim liburan tiba
Orang-orang berpesta
Tapi apa yang dirayakannya?
Adakah mereka telah bebas dari penjara waktu?
Dari beban kerja sehari-hari?
Atau sekedar lelah mengejar mimpi
Dan menciptakan mimpi itu sendiri?

Seperti biasa, tanjakan Nagreg macet total
Hendak kemana mereka pergi?

Ah, aku sadar kali ini
Kepergianku hanya sajak yang mengalir
Di saban-saban tikungan taqdir

III
Telah kureguk kegelapan malam ini
Bersama liuk penari striptease
Di ruang hati yang terkunci
Dengan ragam khayalan purba

Telah kulupakan dunia
Inilah malamku, malam neraka
Kebebasan yang menghunjam
Tanpa etika

IV
Di kamar ini,
Aku teringat wajah Nina
Dalam senyum liarnya Zyexa

Kawanku, perempuan
Yang selalu memandang bulan
Sebagai kekasih tanpa kelamin

Tapi bagaimana mungkin?

Setahun lalu ia hilang tanpa kabar
Hanya lengking berita angin
Membawanya ke negeri dingin
Setelah muntah di sepatu polisi dungu
Yang setia menodongkan senjatanya
Dengan hati tanpa cinta

Di penjara, katanya, ia terus mabuk
Menghisap candu dari seluruh cerobong waktu
Dan minum arak penderitaan

Tapi bagaimana mungkin?

Di kamar ini, aku terus memikirkannya
Seorang kawan perempuanku
Saat tenggelam
Dalam hangat lenguh nafas
Dari mulut dan hidung Zyexa

V
Di gerbang lift yang menuju ke lantai tiga
Aku disambut kegelisahan
Yang menyapa dengan bahasa paling ramah
Sebagai tuan penghuni rumah

Mari kembali ke masalalu, katanya
Setelah bosan menyusuri lorong waktu

Ya, di room 6 hotel ini, sepertinya
Kutemukan lagi kehidupan sesungguhnya
Ketika wajah-wajah yang manis
Melepaskan semua topengnya
Bahkan baju dan seluruh kemegahannya
Dan berjingkrak
bersama dentam-dentumnya musik
Yang bergolak di saban jiwa

Mari kembali ke masalalu, katanya
Jadilah raja di dunia sementara

Kita sudah sangat mabuk
Sama-sama sempoyongan
Meracaukan ungkapan palsu
Dan menari bagai rumi
Di ruang gerah tanpa lampu

Bersamamu, Zyexa, kau kucemburui
Seperti pada malam pertama
Saat aku merekat diri
Di dalam peluk damai istriku

VI
Di penghujung malam itu
Keringat kita bercampur juga, Zyexa
Ketika senyum kau hentikan di bibirku
Disaat kata tak lagi lahir dari pikiran
Dan tak lagi mau peduli perasaan-perasaan
Serupa hujan yang menyentuh musim kemarau
Kureguk sepi, kengerian dalam diri

VII
Anakku, disinilah ayahmu jatuh
Untuk ke sekian kalinya lagi
Dengan mata yang terpejam
Wajah dan tangan lebam
Mengenang cinta
Membangun rindu impian lama:
Cahaya, aku butuh cahaya !

Classic Hotel-Jakarta, 26 Desember 2008



RAJA PANGGUNG

Di panggung, lelaki itu adalah raja
Yang rakus
Dengan pedang terhunus
Menghunjam langit dan tanah kudus
Serupa cinta yang terbaring
Di atas ranjang penuh beling

Tetapi di luar panggung, raja itu
Hanyalah seorang miskin
Lelaki tanpa kerja
Dengan dapur jarang ngebul
Kecuali kalau pura-pura masak
Merebus batu dan menggoreng
Kegetiran dalam hatinya

Ya, lelaki yang memang mirip
Salah satu wajah presiden kita itu
Hanyalah seorang renta
Yang menunggu episode berikutnya
Ketika maut tak lagi mau
Diajak untuk bersandiwara

2008


BAHASA SENJA
Buat: Ella Dahlia

I
Inilah cinta untukmu, matahari
Yang tenggelam di balik waktu
Dan menjelma raksasa rindu

II
Dimanakah kau kasihku
Saat senja memancarkan kengerian di dadaku
Ketika malam satu persatu lepas
Dari ingatan penuh sembilu?

III
Senja ini, hanya ada kematian
Yang menjulur dari saban pintu rumahku
Tangannya membawa bara
Dan segera membakar lagu-lagu cemburu:
Kekasih, beri aku kepedihan secambuk lagi
Agar maut tak sempat lagi menjemputku !

Tasikmalaya, 28 Desember 2008


KISAH KITA
-Imelda

( I )
Meloncat dari bahu ke punggung jalan
Matamu perak sekilau senja
Mari menonton wayang, katamu
Di alun-alun kota

Dalam manis hujan gerimis
Kudekap hatimu mendekati degup jantungku
Kemudian kita lupakan
Pejiarah yang berlari ke arah malam

Duduklahlah disini, ajakku, dan bersandar
Hujan ini takan mampu mengusir kita
Langit pun senyum
Rerumputan menghentikan dzikir gaibnya
Dan melirik ke arah kita

Dengar, kekasih !
Ada kidung dari panggung
Melagukan kerinduan dan kenangan
Mimpi yang terbit disini
Begitu kelam menapsirkan perpisahan
Sedang kita baru saja merayakan perjumpaan, lalu
Di aroma raflesia, Kumengubur caya bintang
Yang terpagut
Rintih musik dari cintamu


( II )

Deras mengalir semenjak lahir
Matamu sembab terkena sihir
Inilah sepi
Merajai kengerian dalam diri

Perawan, sungguhkah mimpi
Membaptis hari persilangan jiwa kita
Dalam tubuh yang menyatu
Dengan rajam ciuman waktu
Saat lenguh dengus nafas
Tak pernah diam kita redam

Dalam senggama, tuhan melintas
Membawa potret keluarga
Mengirimkan bayang neraka
Wangi api dosa-dosa
Yang pernah kita hisap bersama
Dari tiap kecut anggur rahasia

Bibirmu, pejam nikmat
Di sepanjang basah matamu
Tak pernah habis kutapsirkan
Seperti fajar yang abadi kita simpan
Diam-diam


( III )

Bulan redup memandang
Cahayanya pelan meresap
Jadi warna kecemasan
Di mataku, malam ini
Lengkap sudah kematian

Angin berhenti, pohon-pohon kaku
Mengubah diri jadi patung-patung batu
Namun waktu tetap beranjak
Memutar hari
Menggelar kisah-kisah kembali

Apa yang terjadi ? Katamu
Deras hujan yang kita kemas
Dalam kado pernikahan
Tak akan sampai ke lautNya
Meski sungai airmata masih mengalir
Ke setiap hilir musim tanpa nama
Membuat kita ragu melangkah: maju !

Hatiku yang lelah
Kini masih ingin sendiri
Setelah sunyi mengemarau
Di padang mimpi bergebalau

( IV )

Hari ini akulah luka
Mimpi-mimpi bergegas pergi
Adapun yang diam
Hanya kenangan

Entahlah. Apa yang kupedulikan
Dengan memandang sebilah pisau
Yang mencermin di atas meja
Di depanku, sementara
Ingatan lama mengalirkan darah logam
Pada saban borok fikiran ?

Kau jauh
Amat rapuh untuk disentuh
Tapi tak ada yang harus kulepaskan
Ribuan kata atau sebentuk sajak hitam
Meski resah terus merajam

Kau jauh, kemarilah !
Masih akan kunyalakan pertempuran
Dengan tangan mengepal dendam

Hari ini akulah luka
Tapi masih akan kuat menerima
Secambuk lagi kengerian dalam dada

( V )

Sekali peluk, mungkin cukup
Menetralkan racun impian
Yang terlarut
Di setiap gelas arak memabukkan

Maaf, kekasih
Aku masih belum sadar
Ketika sunyi kita rebahkan
Dengan hati tanpa cinta
Saat kita akan sujud bersampingan
Sepanjang malam

Tasik-Ciamis


KURELAKAN KAU MEMILIH

Kurelakan kau memilih
Raut musim yang selalu melukis hari
Di kedua bola matamu
Meski resah mengukir hati
Jadi bayang fatamorgana
Dan membeku dalam dingin sajak-sajakku

Bagiku, mungkin mimpi hanya gelisah
Kerinduan maha jauh
Pada perbatasan jiwa
Yang tak pernah menemukan ujung senja

Kurelakan kau memilih
Bintang-bintang yang kemerlip di angkasa
Berkilau, membercak mutiara
Mengasingkan serpih waktu

Sebab aku daun berdebu
Tak ingin kasih orang luka
Menyirami layu cintaku


SAJAK POP ICE


Kepada malam, kekasihku
Selalu mimpi kutitipkan
Seperti hujan yang tumpah ruah
Menjelma tangis dalam diri

Tanpa suara, hanya diam
Menekuni kenyataan kamar senyap
Yang terlahir di dalamnya
Wajah bayi mungil kita
Dengan tanda kebesaran di keningnya
Sebagai puisi malam pertama

Aku tahu, hanya ada buku-buku
Dan sebingkai lukisan senja
Dimana hidup di dalamnya
Masadepan tak terbayangkan

Di kamarku, segala saat gelap membeku
Namun masih sehangat rindu


PHOTO PAINTER


Siapakah anak kucing yang termangu
Di pojokkan kota santri yang mambisu
Matanya sayu memandang
Pada jauh kemilau bintang

Enroe ?

Ya !

Di jalanan telah baku kebebasan
Kekerasan. Ia terbaring
Melemaskan kengerian di gang malam
Tapi mimpinya terus saja mengembara
Bagai filsup yang kasmaran

Sebuah lonceng mengerang pelan
Di lehernya, begitu lirih
Kesadaran baru saja dibangunkan
Kuku jiwa runcing menegang
Riuh lagu dari perut keroncongan
Melukiskan kesunyian, dan itulah
Dengkur dzikir paling satir
Yang abadi


PERNIKAHAN

Lelaki itu, sebuah taqdir
Perjalanan yang terbawa
Dari kisah para kembara

Biasa

Bila pagi telah tiba
Ia lari ke arah barat, menghindar
Deras panasnya cahaya fajar
Sambil coba menginjak-injak
Bayang hitam kepalanya yang memanjang

Sendiri

Lelaki itu, siklus hidup
Karma Adam yang tercipta
Sebelum Hawa mengidamkan
Buah dosa yang pertama

Dari sorga


MALIOBORO

Selalu saja, angin
Menawarkan kabar buruk di setiap perjalanan
Pada tubuh yang meringkih ‘nahan sakit
Sementara hampir habis waktu kunjungan
Melawat kota bekas jaman penjajahan

Sia-sia !

Tak sempat direkam sajak untukmu
Setelah satu lembar kartu pos
Dilemparkan ke arah malam
Yang tertahan, sebuah lukisan
Membawaku pada rindu tak beralasan

Seperti layaknya ikan
Yang ditangkar - aquariumkan
Aku pun bimbang
Di suatu keadaan membingungkan
Saat mimpi tak menemu satu jawaban : Tuhan ?


PERPISAHAN

Kulepaskan sayap tahun
Dengan resah
Membiar kenangan terbang
Ke cermin langit
Dalam diri, gairah mendadak pucat
Di selangkang dingin malam
Aku kemas
Masalalu yang mulai getas

3 komentar:

  1. Kayaknya aku sudah pernah baca puisi puisi tersebut.emang bikin sendiri ya.....kapan kapan aku kirim puisi untukmu ya orisinil Puisi Multimediaku

    BalasHapus
  2. salam kenal dariku jangan kesinggung...ya...
    seniman itu baik hati....tidak mudah marah
    dan ingat jangan pernah bikin puisi saat dirimu gundah atau sedih mersa tidak adil karyanya yang tampak hanya tetesan air mata.....
    sory lg ya.....

    BalasHapus
  3. @pyramid photo : ditunggu puisi multimedianya, mas.....apresiasi jg http://irvanmulyadie.blogspot.com. Ada puisi multimedianya, lho.....

    BalasHapus